Home
   
 
Main Menu
Home
News
Produk Terbaru
Promo
Galeri KATA
Tas Seminar dan Promosi
Tas Laptop
Kaos
Topi
Craft & Souvenir
KATA Peduli
KATA Peduli
 
   
 
 
 
 
 
Empat Skenario untuk Masa Depan Keanekaragaman Hayati Indonesia 2010

Menyusun Skenario untuk Masa Depan

Keanekaragaman Hayati Indonesia 2010

Pergantian era Orde Baru ke reformasi membawa serta ketidakpastian pada berbagai dimensi termasuk sumber daya hayati. Kehendak masyarakat untuk merubah pola-pola pembangunan yang selama ini sentralistik dan sektoral berbenturan dengan keinginan pemerintah yang enggan beranjak ke cara-cara pengelolaan yang terdesentralisasi dan terpadu. Dengan kondisi tersebut, Yayasan KEHATI lalu berinisiatif untuk melakukan serangkaian pertemuan untuk menyusun skenario-skenario untuk membantu pemerintah, masyarakat, dunia usaha dan siapa pun yang berkepentingan agar memiliki panduan dalam mengelola sumber daya hayati selama satu dekade ke depan. Dimulai pada akhir tahun 1999, Lokakarya Penyusunan Skenario Masa Depan Keanekaragaman Hayati Indonesia 2010 berakhir pada Februari 2000 dan menghasilkan dokumen terlampir.

Empat skenario ini ditulis oleh Tim Perumus berdasarkan keluaran berbagai diskusi selama lokakarya Bogor. Ke empat skenario tersebut memberikan bayangan atau citra kondisi keanekaragaman hayati di masa depan berdasarkan pilihan-pilihan yang dilakukan oleh para pelakunya, dalam hal ini diwakili oleh kelompok pemerintahan, swasta dan kelompok masyarakat madani.

Berikut dokumentasi dari Empat Skenario untuk Masa Depan Keanekaragaman Hayati Indonesia 2010 :

 

Abstrak Empat Skenario

Mutiara yang Hilang
(Skenario 1)


Krisis masih terus berlangsung. Tekanan ekonomi terus meningkat sampai pada kondisi hancurnya sumber daya alam (SDA) dan keanekaragaman hayati. Berbagai konflik di kalangan elit politik dan terjadinya kriminalitas di lapangan dengan praktek perambahan yang menghancurkan SDA tak pernah terselesaikan, sehingga mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Patronisme bisnis penguasa dan pengusaha melemahkan penegakan hukum. Di samping itu penggunaan teknologi yang merusak lingkungan dan sumber-sumber keanekaragaman hayati tetap berlanjut karena didukung oleh masyarakat miskin yang jumlahnya semakin meningkat. Kehancuran SDA dan lingkungan akhirnya memunculkan kesadaran, namun ketika hal tersebut terjadi semuanya sudah terlambat.

Skenario 1 : Mutiara Yang Hilang.pdf

 

Eceng Gondok Menggulma
(Skenario 2)


Untuk menanggulangi beban utang negara, SDA tetap menjadi andalan. Pengurasan potensi SDA terus terjadi hingga jauh melampaui daya dukungnya. Sistem politik gagal melepas belenggu pemerintah terhadap kegiatan masyarakat, dan dengan masih tumpang tindihnya peraturan dan kebijakan memacu terjadinya konflik horisontal dan vertikal. Alih teknologi dilakukan, tapi tidak memperhatikan pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Kelompok-kelompok masyarakat yang memiliki kesadaran tidak berdaya penuh menerapkan pengelolaan SDA yang bijaksana karena tidak mendapat dukungan kebijakan dari para penguasa. Situasi menjadi ruwet dan tidak terkendalikan seperti eceng gondok yang merajalela dan berubah menjadi hama.

Skenario 2 : Eceng Gondok Menggulma.pdf

 

Tikus Mati di Lumbung
(Skenario 3)


Sistem ekonomi masih berjalan rapuh dan tidak stabil, ketidakpastian usaha mendorong rusaknya lingkungan dan keanekaragaman hayati. Timbul niat pemerintah untuk memperbaiki berbagai kebijakan, seperti diadopsinya pranata sosial setempat, namun kebijakan baru di buat tambal sulam, sehingga masyarakat masih belum dapat melepaskan diri dari ketergantungannya terhadap eksploitasi SDA secara berlebihan. Kebijakan pun gagal mengendalikan penggunaan teknologi oleh masyarakat yang merusak dan mencemari lingkungan. Akibatnya masyarakat kian jauh dari sejahtera dan terjerumus dalam kemiskinan yang makin dalam.

Skenario 3 : Tikus Mati di Lumbung.pdf



Kasuari Menebar Benih
(Skenario 4)


Ancaman terhadap kawasan perlindungan dan konservasi semakin kecil, karena keberlanjutan SDA telah menjadi basis perencanaan pembangunan baik oleh pemerintah pusat maupun daerah yang telah menikmati otonomi yang lebih luas. Industri kecil yang berbasis kerakyatan telah berkembang, pemerintah mendapat sumber devisa baru serta penghematan biaya dari penggunaan energi alternatif. Walaupun diawali oleh banyak rintangan, tetapi keputusan-keputusan politik mampu menelorkan kebijakan berdasarkan kondisi dan kebutuhan lokal. Kelembagaan masyarakat adat dan lokal lainnya mampu mendorong perubahan cara pandang masyarakat ke arah penyelamatan SDA. Industri telah menggunakan teknologi tepat guna yang ramah lingkungan. Kondisi ini bukan hanya membawa kesejahteraan tapi juga menempatkan Indonesia pada posisi terhormat di antara bangsa-bangsa di dunia karena kemampuan pemerintah dan masyarakatnya menjaga kekayaan alam dan lingkungannya.

 

  Sumber: Yayasan KEHATI, http://www.kehati.or.id

 

 

 
< Prev   Next >
 
   
     
 
 
  Design by Arifin © 2008 www.webkata.net